Home Daerah Cerita Petani Pala-Cengkih di Tidore di Tengah Kemarau Panjang
DaerahHeadline

Cerita Petani Pala-Cengkih di Tidore di Tengah Kemarau Panjang

Share
Salah petani pala di Kelurahan Folarora menunjukkan pohon cengkih yang mati. (Foto: Mansyur/Indep.id)
Share

Kemarau berkepanjangan yang melanda Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, berdampak pada perkebunan pala dan cengkih milik warga. Sejumlah tanaman mengering hingga mati, sementara petani kesulitan mendapatkan air untuk menyelamatkan tanaman yang sebagian besar siap panen.

Kondisi tersebut dirasakan petani di Kelurahan Kalaodi, Kecamatan Tidore Timur, khususnya Lingkungan Golili. Pala dan cengkih yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga perlahan mengering akibat kekeringan.

Riswan Hasan (30), petani di Lingkungan Golili, mengatakan kebun pala dan cengkih miliknya mengalami kerusakan akibat kemarau. Daun-daunnya mengering. Sementarab tanaman sayur-mayur yang menjadi sumber penghasilan tambahan juga ikut mati.

“Ini sangat disayangkan, karena warga di Golili menjadikan pala-cengkih sebagai mata pencarian. Meskipun ada sayur-mayur, tetapi ikut mati,” ujar Riswan kepada Indep.id, Senin (5/10/2026).

Ia mengaku berulang kali berusaha menyiram tanaman, tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena sumber air berada jauh dari kebun. Bantuan air dari pemerintah juga belum mencukupi kebutuhan warga.

Riswan menyebut sejumlah pohon pala yang masih berusia muda ikut mati. Petani pun terpaksa menyiapkan bibit sendiri dari hasil panen sebelumnya karena belum mendapatkan bantuan bibit untuk mengganti tanaman yang rusak.

Menurut dia, sekitar 70 persen tanaman di kebun yang diamatinya mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat petani khawatir kehilangan sumber penghasilan yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak.

Dampak kemarau juga dirasakan Safar (45), petani pala dan cengkih di Lingkungan Golili. Ia mengatakan lebih dari 14 pohon pala miliknya yang telah dewasa mati, disusul sejumlah tanaman yang masih berukuran kecil.

“Pohon pala saya yang mati sekitar 14 pohon lebih. Belum lagi pohon yang masih kecil-kecil ikut mati. Tetapi, untuk pohon cengkih, alhamdulillah sebagian masih bertahan,” kata Safar.

Ia menambahkan, kemarau yang berlangsung hampir lima bulan turut menyebabkan tanaman sayur-mayur mengering. Sementara itu, panen cengkih yang biasanya menjadi salah satu sumber pendapatan petani belum dapat dilakukan.

Safar khawatir kondisi tersebut berlanjut apabila hujan belum turun dalam beberapa bulan ke depan. Menurutnya, kematian tanaman tahunan tidak hanya berdampak pada pendapatan petani saat ini, tetapi juga mengancam sumber penghidupan generasi berikutnya.

“Jangankan untuk menyiram tanaman, kebutuhan air sehari-hari saja sulit. Apalagi mau menyiram tanaman,” keluhnya.

Di Kelurahan Kalaodi, petani biasanya memanen pala secara berkala. Hasil panen kemudian dijemur di sepanjang jalan permukiman. Ketika musim cengkih tiba, warga bahkan menyewa tenaga kerja untuk memetik buah dari pohon yang jumlahnya cukup banyak.

Namun, kemarau membuat aktivitas tersebut terganggu. Sebagian tanaman tidak lagi menghasilkan buah secara optimal, sementara pohon lainnya mengering hingga mati.

Krisis air yang dialami warga Golili telah mendapat bantuan berupa dua profil penampung air berkapasitas masing-masing 1.200 liter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tidore Kepulauan. BPBD juga menyalurkan air untuk kebutuhan sehari-hari warga.

Namun, air tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga sehingga tidak dapat digunakan secara leluasa untuk menyiram perkebunan.

Untuk memenuhi kebutuhan air, warga juga bergotong royong mengumpulkan dana sekitar Rp10 juta guna membeli pipa, kabel, dan mesin pompa. Peralatan tersebut digunakan untuk mengalirkan air dari mata air yang dikenal warga sebagai Luku Celeng menuju rumah-rumah penduduk.

Meski demikian, keterbatasan debit air dan jarak sumber air membuat distribusi harus dilakukan secara bergiliran.

Persoalan serupa terjadi di Lingkungan Kola, Kelurahan Kalaodi. Lurah Kalaodi, Dedy Abdullah, mengatakan sebagian pohon pala yang telah berusia dewasa maupun yang baru memasuki usia produktif mengalami kekeringan.

Ia menyebut sejumlah tanaman yang sebelumnya mulai berbuah juga mati akibat kekurangan air. Karena itu, Dedy meminta petani mulai menyiapkan bibit pengganti sebelum musim kemarau berakhir.

“Sebagian pohon pala yang kering lebih dari 70 persen. Saya pun bilang kepada petani, jangan tunggu selesai kemarau baru siapkan bibit,” ujarnya.

Menurut Dedy, selain kemarau, kondisi tanah berbatu di sejumlah lokasi turut memengaruhi pertumbuhan tanaman. Kebun yang berada di dataran tinggi juga menyulitkan petani membawa air untuk penyiraman.

Bak Penampung di Folarora Rusak

Dampak kekeringan turut dirasakan petani di Kelurahan Folarora. Karim Salama (34), petani pala setempat, mengatakan buah pala miliknya mengerut dan berjatuhan sebelum dipanen. Sejumlah pohon yang berusia sekitar 10 tahun bahkan mati.

Karim memperkirakan sekitar 60–70 persen tanaman pala di wilayahnya mengalami kekeringan. Bantuan penampung air yang tersedia di tingkat RT belum mencukupi kebutuhan penyiraman tanaman.

Ia juga menyoroti bak penampung air yang dibangun melalui swadaya masyarakat sejak sekitar 1950-an. Bak tersebut kini tidak berfungsi karena mengalami kebocoran dan belum direhabilitasi.

“Dalam setiap musrenbang kami selalu mengusulkan agar bak penampung tersebut direhabilitasi kembali, tetapi hingga sekarang belum diperhatikan oleh kelurahan dan pemerintah daerah,” ungkap Karim.

Ia berharap pemerintah memberikan bantuan bibit pala agar petani dapat mengganti tanaman yang mati. Menurutnya, penanaman kembali merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga penghidupan masyarakat dan memastikan generasi berikutnya tetap dapat menikmati hasil perkebunan pala.

Kondisi tanaman warga di Kalaoidi yang menguning di sepanjang jalan.

Sementara itu, Sehat M. Jen (51), anggota kelompok tani pala-cengkih di Kelurahan Gurabunga, mengatakan tanaman perkebunan yang diwariskan orang tua mereka juga mengalami kekeringan. Ia menilai regenerasi petani menjadi tantangan tersendiri karena sebagian anak muda lebih memilih menanam komoditas berumur pendek untuk memperoleh pendapatan lebih cepat.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah petani mulai mengimbangi perkebunan pala dan cengkih dengan menanam sayuran seperti tomat, sawi, kol, dan cabai. Namun, kemarau tetap membatasi aktivitas pertanian karena kebutuhan air sulit dipenuhi.

Dinas Pertanian Usulkan Bantuan 2027

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kota Tidore Kepulauan, M. Yusran Abdul Samad, mengatakan pemerintah daerah belum melakukan pendataan menyeluruh terhadap tanaman pala dan cengkih yang rusak akibat kemarau.

Menurutnya, laporan kerusakan yang diterima sementara baru mencakup sekitar dua hektare tanaman pala. Dinas Pertanian berencana turun langsung ke lapangan untuk memeriksa kondisi kebun petani.

“Kami harus turun ke lapangan agar mengecek secara langsung. Untuk saat ini, baru sebatas laporan yang kami terima dari petani, hampir dua hektare pohon pala mati,” jelas Yusran.

Ia mengatakan Dinas Pertanian telah mengusulkan bantuan pengembangan dan rehabilitasi tanaman pala melalui anggaran Kementerian Pertanian untuk 2027. Usulan tersebut mencakup perluasan dan rehabilitasi tanaman di delapan kecamatan di Kota Tidore Kepulauan.

Bantuan yang diusulkan meliputi bibit, pupuk, serta upah tenaga kerja bagi petani yang melakukan penanaman. Namun, realisasinya masih menunggu persetujuan pemerintah pusat.

Yusran menjelaskan, pada 2026 juga terdapat program perluasan tanaman kelapa, pala, dan kakao seluas 850 hektare. Meski demikian, bantuan untuk petani yang mengalami kerusakan tanaman belum dapat diberikan secara langsung karena keterbatasan anggaran daerah.

Ketua DPRD Kota Tidore Kepulauan, H. Ade Kama, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, PDAM Ake Mayora, dan BPBD untuk membahas pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat, termasuk petani.

Ia meminta instansi teknis mengambil langkah penanganan agar distribusi air dapat menjangkau warga di wilayah pegunungan.

Menurut Ade, upaya distribusi masih menghadapi kendala akses jalan, keterbatasan anggaran, dan armada pengangkut air. Meski begitu, koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk membantu masyarakat.

“Dari koordinasi itu, disepakati untuk melayani masyarakat terkait kebutuhan air bersih, termasuk kebutuhan petani. Namun, saya belum tahu implementasi di lapangan seperti apa. Untuk itu, saya meminta instansi teknis mengambil langkah-langkah penanggulangan,” tegasnya.

Salah satu petani di Kalaodi melihat tanaman pala dan cengkihnya sudah mengering akibat kemarau. (Foto: Mansyur/Indep.id)

Ade menambahkan, pihaknya juga mendorong PDAM Ake Mayora memperluas distribusi air bersih ke daerah pegunungan. Ia berharap penanganan krisis air tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghidupan warga.

Bagi petani di Tidore Kepulauan, kemarau panjang bukan sekadar persoalan berkurangnya hasil panen. Kematian pala dan cengkih juga berarti hilangnya sumber pendapatan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan. Karena itu, pendataan kerusakan, pemenuhan kebutuhan air, dan bantuan bibit menjadi hal penting untuk menjaga keberlangsungan perkebunan rakyat. (*)

 

 

Penulis: Manysur Armain

Share