Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tidore Kepulauan akan menerjunkan petugas ke lapangan untuk melaksanakan pendataan sosial ekonomi masyarakat mulai pertengahan Juni hingga akhir Agustus 2026.
Sebelum pelaksanaan pendataan, BPS Kota Tidore Kepulauan telah menggelar pelatihan bagi para petugas yang dinyatakan lolos seleksi dan akan bertugas dalam kegiatan sensus di wilayah Kota Tidore Kepulauan.
Kepala BPS Kota Tidore Kepulauan, Oki Afrizal, mengatakan pelatihan tersebut dilaksanakan dalam empat kelas yang terbagi dalam dua gelombang di Pulau Tidore dan dua gelombang di wilayah daratan Oba.
“Empat kelas itu dibagi dalam dua gelombang di Pulau Tidore dan dua gelombang di daratan Oba. Untuk pelatihan di Pulau Tidore sudah selesai dilaksanakan, sementara di daratan Oba masih berlangsung,” kata Oki, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, kegiatan pendataan akan berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Setelah mengikuti pelatihan, para petugas akan turun langsung ke masyarakat untuk mengumpulkan data terkait kondisi sosial dan ekonomi rumah tangga.
Ia menjelaskan, sasaran pendataan tidak hanya mencakup rumah tangga, tetapi juga berbagai jenis usaha yang dijalankan masyarakat, baik usaha konvensional maupun usaha berbasis digital.
“Petugas akan mendata kondisi sosial ekonomi rumah tangga, termasuk jenis usaha yang dimiliki. Baik itu kios, toko pakaian, usaha perdagangan lainnya maupun usaha yang dijalankan secara online,” ujarnya.
Oki menegaskan, seluruh jenis usaha di Kota Tidore Kepulauan diharapkan dapat terdata secara menyeluruh sehingga menghasilkan data yang akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan pemerintah.
“Saya berharap seluruh jenis usaha, khususnya di Kota Tidore Kepulauan, dapat terdata dan tidak ada yang terlewat dalam pelaksanaan sensus ini,” katanya.
Selain itu, BPS mengimbau masyarakat untuk memberikan informasi yang jujur dan sesuai kondisi sebenarnya saat petugas melakukan pendataan. Informasi yang dikumpulkan mencakup berbagai aspek sosial ekonomi, termasuk tingkat pendidikan anggota rumah tangga.
Dalam pelaksanaannya, petugas akan menggunakan aplikasi pendataan bernama FASI untuk memasukkan data secara digital. Data yang telah diinput akan tersimpan langsung dalam sistem BPS.
“Jika menemukan usaha berskala besar, petugas akan mengirimkan tautan melalui email agar pelaku usaha dapat mengisi data secara mandiri,” jelas Oki.
Meski demikian, BPS juga menyiapkan metode pendataan manual bagi wilayah yang mengalami kendala jaringan internet. Petugas akan menggunakan kuesioner berbasis kertas untuk memastikan seluruh data tetap dapat dikumpulkan dengan baik.
Menurut Oki, fleksibilitas metode pendataan tersebut dilakukan agar proses sensus berjalan optimal dan mampu menjangkau seluruh wilayah di Kota Tidore Kepulauan.
Berita ini telah disusun dengan fokus pada unsur utama kegiatan sensus, sasaran pendataan, jadwal pelaksanaan, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam memberikan data yang akurat. (msn)
Penulis: Mansyur Armain