Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Maluku Utara bersama sejumlah komunitas di Ternate menggelar Bookfest atau Festival Buku sekaligus meluncurkan Yayasan Rumah Buku Maluku Utara dan 99 buku karya anak negeri.
Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 11 hingga 13 September 2026, di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kota Ternate.
Dalam rangkaian Bookfest, salah satu buku yang dibedah adalah karya Ketua ICMI Maluku Utara, Kasman Hi. Ahmad, yang juga Wakil Bupati Halmahera Utara, berjudul Sekolah Rumah Pendidikan.
Sebagai penulis, Kasman mengatakan, gagasan menulis buku tersebut berawal dari kesadaran filosofis mengenai pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai kegiatan praktis, tetapi perlu dibangun berdasarkan landasan filsafat konstruktivisme.
“Pendidikan itu sebenarnya tugasnya membangun pandangan hidup, sikap, dan keterampilan. Bila kita membawa ke taksonomi Bloom, ada kognitif, afeksi, dan psikomotorik,” kata Kasman, Jumat (11/9/2026) malam.
Ia menilai, salah satu persoalan dalam pendidikan adalah pemahaman bahwa pendidikan hanya berlangsung ketika seseorang pergi ke sekolah. Padahal, menurutnya, umat dan masyarakat juga memiliki peran dalam membentuk pandangan hidup seseorang.
Karena itu, pendidikan perlu ditempatkan sebagai dasar dalam membentuk manusia yang beradab.
Kasman menjelaskan, buku Sekolah Rumah Pendidikan lahir dari pendekatan filosofis yang melihat pendidikan tidak hanya sebagai lembaga formal yang disediakan negara.
Ia juga mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep “operasi jiwa” yang pernah ditulis Muhammad Natsir. Menurut Kasman, pendidikan pada dasarnya berkaitan dengan pembentukan jiwa manusia sebelum kemudian diwujudkan dalam tindakan.
Kasman mencontohkan Wage Rudolf Soepratman ketika menciptakan lagu Indonesia Raya. Menurut dia, yang dibangun terlebih dahulu adalah jiwa, kemudian raga.
Dalam konteks pendidikan, Kasman menempatkan guru sebagai murabbi, yang memiliki akar kata dengan tarbiyah, yakni sebagai pembimbing sekaligus pembentuk karakter.
“Pendidikan ada mazhabnya, yaitu taqlin dan taqkim, namun orang biasanya menggunakan tarbiyah. Dan tugas guru adalah tugas ketuhanan,” jelasnya.
Menurut Kasman, pendidikan di rumah merupakan tanggung jawab orang tua. Sementara di sekolah, kepala sekolah, dewan guru, tenaga teknis hingga penjaga sekolah memiliki peran sebagai orang tua bagi siswa.
“Pertanyaannya, siapa yang menjadi guru di masyarakat? Ia adalah tokoh agama, masyarakat, pemuda, perempuan dan lainnya menjadi guru,” katanya.
Ia juga menyoroti persoalan metodologi pendidikan. Menurutnya, siswa tidak seharusnya hanya dipandang sebagai objek dalam proses pendidikan.
“Di situlah torang ini yang menjadi problem selalu pada metodologi, sebab kita masih menganggap siswa sebagai ATM. Masuk gratis, keluar harus mengeluarkan uang, padahal proses tidak sampai ke situ,” ujarnya.
Kasman juga menyinggung pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Menurutnya, ketika seorang anak telah terdaftar di sekolah, perlu ada kesepakatan atau kontrak pendidikan antara sekolah dan orang tua.
“Apabila terjadi sesuatu terhadap anak yang tidak membahayakan jiwa, tidak boleh orang tua melapor ke polisi,” harapnya.
Sementara itu, guru Rosita Umahuk mengatakan, revitalisasi pendidikan tidak hanya dimaknai melalui pembangunan sarana dan prasarana gedung sekolah. Menurutnya, fasilitas pendukung pendidikan, termasuk interaksi digital, juga perlu diperhatikan.
Ia juga menyoroti penggunaan dana bantuan operasional pendidikan untuk pengembangan perpustakaan dan pengadaan buku.
Menurut Rosita, sekolah wajib mengalokasikan minimal 10 persen dari dana tersebut untuk membeli buku dan mengembangkan perpustakaan.
Ia memberikan contoh, jika jumlah siswa di SMA Negeri 1 Ternate sebanyak 1.304 orang dan bantuan operasional pendidikan sebesar Rp1,8 juta per siswa per tahun, maka total dana yang diterima sekitar Rp2,3 miliar. Dengan alokasi 10 persen, sekolah dapat memiliki anggaran sekitar Rp200 juta untuk pengadaan buku.
“Sekolah wajib membelanjakan dana tersebut, minimal 10 persen tadi. Kalau dana tersebut berdasarkan jumlah siswa, misalnya di SMA Negeri 1 Ternate siswanya sebanyak 1.304 dikalikan per siswa Rp1,8 juta per tahun, maka dari satu sumber dana BOS Rp2,3 miliar dengan 10 persen, dapatnya Rp200 jutaan untuk membeli buku,” terangnya.
Menurutnya, pengadaan buku tersebut penting agar guru dan siswa tidak mengalami kesulitan ketika membutuhkan bahan bacaan dalam proses pendidikan.
Sementara itu, Amar Ome memberikan motivasi kepada anak-anak yang hadir dalam peluncuran buku Sekolah Rumah Pendidikan.
Ia mengatakan, kehadiran anak-anak dalam festival buku menjadi tanda bahwa literasi perlu terus dihidupkan dan dipraktikkan.
“Buku ini pada akhirnya harus menjadi satu amal jariah. Karena bagi kita sebagai seorang penulis, penting untuk dilestarikan semangat dan komitmennya dalam menjaga kepekaan menulis,” tuturnya.
Menurut Amar, buku yang dibahas dalam kegiatan tersebut dapat menjadi nasihat spiritual bagi siapa saja yang memahami pendidikan tidak hanya melalui pendidikan formal.
Meski demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah diksi dan kalimat dalam buku yang perlu diperbaiki.
“Meski begitu, buku ini masih tertinggal diksi-diksi di dalamnya sudah luar biasa, namun ada beberapa kalimat yang perlu diluruskan,” harapnya. (msn)
Penulis: Mansyur Armain

