Nuansa adat dan semangat generasi muda mewarnai pembukaan Festival “Sorame Gam Ngofa Loa Ma Munara” yang digelar di Lapangan Bola Dusun Paceda, Desa Akedotilou, Kecamatan Oba Tengah, Rabu (14/5/2026).
Festival bertajuk Kabata: Kolaborasi Adat Budaya Se Atoran itu dibuka secara resmi oleh Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen.
Dalam sambutannya, Muhammad Sinen menekankan pentingnya filosofi “Jasmerah” atau Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah sebagai bagian dari menjaga identitas masyarakat Tidore di tengah perkembangan zaman.
“Nilai budaya dan sejarah kita ibarat uang seratus ribu rupiah. Meski diremas atau diinjak, nilainya tetap tinggi dan tidak akan berubah. Itulah identitas kita yang harus dijaga di tengah kemajuan teknologi,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen pelestarian budaya, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan berencana memasukkan bahasa Tidore ke dalam kurikulum sekolah melalui Dinas Pendidikan.
Menurutnya, nantinya akan ada satu hari khusus dalam sepekan di mana para siswa diwajibkan berkomunikasi menggunakan bahasa daerah.
“Saya berpesan kepada para pemuda agar terus mengasah akhlak dan pola pikir yang positif. Harapannya, ke depan tidak ada lagi aksi anarkis, tetapi lahir kontribusi nyata bagi pembangunan desa,” ujarnya.
Sementara itu, Sultan Tidore, H. Husain Alting Sjah, dalam pesannya menekankan pentingnya penguatan nilai spiritual dan sosial di tengah masyarakat.
“Saya mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari warna kulit atau suku, melainkan dari amal dan kualitas kemanusiaannya,” tuturnya.
Sultan juga menyoroti kondisi ekonomi global yang berdampak terhadap pemangkasan anggaran daerah. Karena itu, masyarakat diajak lebih kreatif dan mandiri, termasuk dalam pengelolaan sampah secara swadaya untuk membantu meringankan beban pemerintah.
“Mari kita doakan para pemimpin kita agar tetap amanah membawa rahmat bagi daerah,” ajaknya.
Di sisi lain, Ketua Panitia Festival, Cintia Muhammad, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menyediakan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya lokal di tengah arus globalisasi.
“Festival ini dirangkaikan dengan berbagai perlombaan tingkat SD, SMP hingga SMA, seperti tarian daerah, dialog bahasa Tidore, baca puisi, hingga karaoke solo lagu daerah,” jelasnya.
Ia berharap Festival Sorame Gam Ngofa Loa Ma Munara dapat ditetapkan sebagai agenda budaya tahunan resmi Pemerintah Kota Tidore Kepulauan bersama Kesultanan Tidore agar pembinaan budaya terus berkelanjutan. (*)
Penulis: Mansyur Armain


