Musim kemarau yang berkepanjangan membuat beberapa kelurahan di dataran tinggi mengalami kekeringan, salah satunya di Kelurahan Folarora, Kota Tidore Kepulauan mengalami pada krisis air bersih.
Krisis air bersih yang makin meluas ini membuat warga hanya mengandalkan bantuan air dari pemerintah.
Lurah Kelurahan Folarora, Abdurahim Laha mengatakan, sebagian warganya sudah mendapat bantuan air bersih dari BPBD Kota Tidore dan PDAM Ake Mayora. Sebelumnya, lanjut Abdurahim, warganya terpaksa membeli air tangki.
“Ada warga yang membeli air bersih seharga Rp300 ribu per tangki dari BPBD dan PDAM Ake Mayora,”kata Abdurahim, Minggu (2/8/2026).
Dia berujar, warga Kelurahan Folarora selama ini bergantung pada air hujan, karena belum dijangkau oleh PDAM. Sementara, air hujan yang ditampung warga sebagian besar sudah habis.
“Untuk air minum dari hujan yang ditampung, sedangkan untuk mencuci dan mandi warga menggunakan mata air dari gunung, sekarang sudah ada puluhan rumah yang pesan air bersih,”katanya.
Di sisi lain, penyaluran air bersih juga terhambat. Pasalnya, hanya 1 truk tangki yang disiapkan untuk menyalurkan air. Menurut informasi, kondisi ini akibat kebijakan efisiensi.
“Pernah musim kemarau di tahun sebelumnya, pemerintah sediakan 3 mobil tengki. Tapi sekarang, dengan kondisi efesiensi, maka warga hanya dilayani menggunakan satu mobil tengki,”ungkap Abdurahim.
Direktur PDAM Ake Mayora, Abubakar Nurdin menjelaskan, penanganan air bersih di dataran tinggi saat ini hanya dilakukan menggunakan truk karena belum dijangkau jaringan pipa dari PDAM.
“Sayangnya, Torang punya mobil sudah lama sehingga tidak bisa naik ke dataran tinggi. Dan alhamdulillah, kemarin kami dapat satu unit mobil dari Balai Provinsi Maluku Utara yang dipinjamkan ke PDAM,”paparnya.
Menurutnya, fokus penanganan bantuan air bersih saat ini hanya difokuskan di daerah ketinggian seperti Kelurahan Kalaodi, Gurabunga, Topo Tiga, Afa-Afa, dan Folarora. (msn)
Penulis: Mansyur Armain