Universitas Bumi Hijrah (Unibrah), Tidore terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui pertemuan dan diskusi pencegahan kekerasan seksual, psikis, dan fisik yang digelar pada, Kamis, (18/6/2026).
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya Forum Perempuan Maluku Utara (FOSPAR), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), tenaga kependidikan, ketua program studi, serta anggota Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Unibrah.
Pertemuan ini, menjadi ruang bersama untuk memperkuat pemahaman, koordinasi, serta langkah-langkah strategis dalam mencegah dan menangani berbagai bentuk kekerasan yang berpotensi terjadi di lingkungan kampus.
“Kami dari pihak kampus, memiliki komitmen kuat untuk melawan segala bentuk kekerasan, khususnya kekerasan seksual yang kerap menjadi ancaman bagi ruang akademik yang aman dan nyaman,”ungkap Wakil Rektor III Unibrah, Mansyur Djamal, Kamis (18/6/2026).
Menurut Mansyur, kampus harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh civitas akademika. Karena itu, Unibrah berkomitmen memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual secara serius.
Pada 2026 ini, lanjut dia, pihaknya menargetkan terwujudnya zero kekerasan seksual di lingkungan kampus melalui penguatan edukasi, pelaporan yang mudah diakses, serta kerja sama seluruh elemen kampus
Dengan adanya upaya itu, kata dia, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab Satgas PPKPT, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh unsur kampus.
Sementara itu, Direktur Forum Perempuan Maluku Utara (FOSPAR) Malut, Astri Hasan, menyoroti pentingnya keberpihakan kepada korban dalam setiap proses penanganan kasus kekerasan.
“Tidak sedikit korban yang memilih diam karena merasa tidak didengar. Itu tidak dipercaya, bahkan khawatir akan mendapat stigma dari lingkungan sekitarnya,”tegasnya.
Korban kekerasan seringkali mengalami tekanan berlapis. Selain menghadapi dampak dari peristiwa yang dialami, mereka juga merasa diabaikan atau tidak mendapatkan dukungan yang memadai. Untuk itu, semua pihak harus memiliki kepedulian untuk memberikan perlindungan, pendampingan, dan memastikan korban mendapatkan rasa aman untuk menyampaikan pengaduannya.
Ia menjelaskan, kampus memiliki peran penting dalam membangun budaya yang menolak segala bentuk kekerasan sekaligus memberikan perlindungan kepada kelompok rentan.
Mahasiswi Unibrah, Annbiya Nurdin, menambahkan, pertemuan ini, bertujuan peningkatan kesadaran terkait kekerasan seksual harus untuk menjadi agenda bersama, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
“Kami berharap edukasi mengenai kekerasan seksual terus ini, diperkuat sehingga mahasiswa memiliki pemahaman yang baik tentang bentuk-bentuk kekerasan, cara mencegahnya, dan langkah yang harus dilakukan ketika melihat atau mengalami kasus tersebut,”papar Annbiya.
Kegiatan itu dilanjutkan dengandiskusi mengenai penguatan peran Satgas PPKPT, mekanisme pelaporan yang ramah korban, serta strategi membangun budaya kampus yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap hak asasi manusia, kesetaraan, dan keamanan bagi seluruh civitas akademika.
“Pertemuan ini, diharapkan menjadi langkah konkret dalam mewujudkan lingkungan kampus yang bebas dari kekerasan, serta mampu memberikan perlindungan dan keadilan bagi setiap korban,”harapnya. (msn)
Penulis: Mansyur Armain