Di tengah laju perubahan di Pulau Obi, Halmahera Selatan, masyarakat Desa Soligi memilih satu hal yang tetap dijaga: akar budayanya. Suara rentak gendang menyatu dengan alunan gong, memecah keheningan malam di pesisir Pulau Obi.
Dua hari usai gema takbir Iduladha 1447 Hijriah, halaman Kantor Desa Soligi berubah menjadi panggung peradaban. Ratusan warga memusatkan perhatian pada gelanggang tempat akar identitas mereka dirawat.
Momentum ini terasa semakin bermakna karena berlangsung berdekatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Halmahera Selatan pada 9 Juni. Malam itu, masyarakat Desa Soligi tengah menggelar Pagelaran Kesenian Ngibi.
Sebuah tradisiturun-temurun dari tanah Buton, Sulawesi Tenggara, yang dibawa oleh leluhur mereka melintasi lautan hingga mengakar kuat di Halmahera Selatan.
Sebelum tarian dimulai, suasana riuh mendadak hening. Imam desa memimpin doa, menegaskan bahwa Tari Ngibi berkelindan erat dengan spiritualitas Islam yang dianut masyarakat setempat. Setelahnya, tokoh adat membuka gelanggang lewathentakan pencak silat, seolah meretas jalan bagi generasi penerus di bawahnya.
Arena kemudian diisi oleh Tari Cungka yang dibawakan penari perempuan, melambangkan siklus awal kehidupan manusia di dalam kandungan. Pesan inidisambung dengan Tari Ngibi, tarian berpasangan yang merepresentasikan syukuratas ditiupkannya roh ke dalam raga.
Dalam gerak gemulai Ngibi, penari laki-lakipantang menyentuh penari perempuan, sebuah simbol penghormatan tertinggi bagiperempuan sebagai perawat kehidupan.
Tokoh adat Desa Soligi, Imam La Puasa, menjelaskan bahwa setiap gerak dantahapan dalam kesenian Ngibi mengandung pesan moral, nilai kehidupan, serta jejaksejarah perjalanan masyarakat Buton yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Ngibi bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada nasihat, ada sejarah, dan adaidentitas yang diwariskan oleh leluhur kami. Karena itu, tradisi ini harus terus dijagaagar anak cucu tidak melupakan asal-usulnya,” ujarnya.
Jika dahulu Tari Ngibi menjadi wujud syukur pascapanen raya, kini kesenian tersebut bertransformasi mewarnai berbagai perhelatan sosial, termasuk perayaan Iduladha.
Di tengah pertumbuhan kawasan dan perubahan sosial yang terus bergerak, masyarakat Soligi menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus memutus hubungan dengan identitas budaya.
Usai perenungan filosofis lewat tari, gelanggang kembali bergemuruh. Giliran anak-anak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) unjuk gigi beradu pencak silat.
Diiringi sorak-sorai ratusan warga, adu ketangkasan ini hadir bukan sebagai ajang untuk saling melukai, melainkan simbol sportivitas dan semangat ksatria generasi muda Soligi.
Harmoni Kearifan Lokal di Tengah Laju Industri
Bagi Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, kemeriahan malam itu adalah wujudperjuangan melawan abrasi budaya.
“Kegiatan yang didukung Harita Nickel ini merupakan kerja sama pemerintah desa dan tokoh adat. Mari kenali dan lestarikan identitas kita, untuk membina generasi muda agar terus menjaga budayanya,” tuturnya.
Pagelaran ini memang tidak berdiri sendiri. Ia terwujud berkat kolaborasi masyarakat dengan entitas industri setempat, Harita Nickel. Di tengah tumbuhnya kawasan industri, masyarakat Soligi menunjukkan bahwa perubahan tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya. Kehadiran industri justru mengambil peran sebagaikatalisator yang memastikan kearifan lokal tetap bernafas.

Menegaskan komitmen tersebut, Community Relations Supervisor Harita Nickel, Wigit Yan Sukmawan, menyampaikan bahwa kehadiran perusahaan bersandar pada penghormatan terhadap kearifan lokal.
“Bagi kami, budaya lokal adalah bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga bersama. Tari Ngibi bukan sekadar pertunjukan, tetapi warisan nilai dan sejarah masyarakat Soligi. Karena itu, perusahaan ingin turut mendukung agar tradisi initetap hidup dan terus dikenal oleh generasi muda,” ujar Wigit.
Di tengah perubahan yang terus bergerak di Halmahera Selatan, ruang-ruang budaya seperti ini menjadi pengingat bahwa pembangunan juga perlu berjalan berdampingan dengan upaya menjaga identitas masyarakat.
Sebab yang diwariskan kepada generasi muda bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga nilai, tradisi, dan akar budaya yang membentuk kehidupan sosial masyarakat pesisir.
Malam semakin larut, namun gelanggang di Soligi tak kunjung sepi. Diiringi tabuhangong, anak-anak dan remaja masih bergantian menari dan memainkan pencak silatdi hadapan warga.
Mereka bukan sekadar tampil dalam sebuah pagelaran, tetapi sedang belajar mengenali warisan budaya yang telah lama hidup di Halmahera Selatan, khususnya di pesisir Obi. Di tangan generasi muda inilah, tradisi itu dijagaagar tetap hidup dan terus berdenyut dari satu generasi ke generasi berikutnya. (rie)