Musyawarah Besar (Mubes) Suku Wayoli, Kabupaten Halmahera Barat mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari pemerhati sejarah dan budaya Maluku Utara, Rustam Abd Gani.
Rustam menilai, Suku Wayoli memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Jailolo, Halmahera Barat, hingga Maluku Utara. Menurut dia, Wayoli merupakan salah satu suku yang masih kuat memegang adat istiadat dan tradisi leluhur sehingga patut mendapat apresiasi.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan pemuda Wayoli bersama tokoh adat dan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.
“Pemuda Wayoli sebagai penggerak bersama para tokoh adat maupun masyarakat menunjukkan soliditas yang luar biasa dalam menjaga warisan leluhur di era modernisasi saat ini,” ujar Rustam.
Menurutnya, soliditas tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membuat Suku Wayoli mampu mempertahankan identitas adat dan budayanya di tengah dinamika perjalanan sejarah Moloku Kie Raha.
Rustam berharap, Mubes Suku Wayoli tidak hanya menjadi ruang musyawarah, tetapi juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis untuk memperkuat pelestarian adat dan budaya.
Salah satu hal yang dinilainya perlu menjadi perhatian serius adalah perlindungan dan pelestarian Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Suku Wayoli oleh pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Ia menegaskan, perhatian pemerintah sangat penting agar warisan leluhur tetap terjaga, dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, dan tidak hilang seiring perkembangan zaman.
“WBTb Suku Wayoli harus menjadi catatan penting dalam Mubes ini untuk meminta keseriusan negara dalam menjaga warisan budaya bangsa sebagaimana amanat UUD 1945,” tegasnya.
Rustam berharap, rekomendasi yang dihasilkan dalam Mubes tersebut dapat menjadi pijakan bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat upaya pelestarian budaya Suku Wayoli sebagai bagian dari kekayaan budaya Maluku Utara. (*)

