Home Daerah Dampak Kenaikan BBM, Tiga Komoditas Bapok di Tidore Ikut Naik
Daerah

Dampak Kenaikan BBM, Tiga Komoditas Bapok di Tidore Ikut Naik

Share
Penjual bahan pokok di Pasar Sarimalaha, Tidore. (Foto: Istimewa)
Share

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak pada harga sejumlah bahan pokok (bapok) di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.

Dari 20 komoditas yang dipantau Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Kota Tidore Kepulauan, tercatat tiga komoditas mengalami kenaikan harga.

Ketiga komoditas tersebut yakni cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan bawang merah.

Kepala Bidang Bina Pasar dan Sarana Perdagangan Disperindagkop dan UMKM Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Ilham Ishak, mengatakan harga cabai merah keriting naik dari Rp90.000 menjadi Rp100.000 per kilogram.

Sementara cabai rawit merah naik dari Rp100.000 menjadi Rp110.000 per kilogram, dan bawang merah mengalami kenaikan dari Rp70.000 menjadi Rp100.000 per kilogram.

“Tiga jenis bahan pokok ini mengalami kenaikan harga berdasarkan hasil pemantauan terakhir yang kami lakukan,” ujar Ilham, Selasa (16/6/2026).

Ia menjelaskan, data harga tersebut masih mengacu pada pemantauan tanggal 12 Juni 2026 dan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan.

Menurut Ilham, kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kenaikan BBM, tetapi juga faktor cuaca di daerah pemasok seperti Manado, Halmahera Barat, dan Halmahera Timur yang saat ini sedang memasuki musim hujan.

“Kondisi cuaca menyebabkan hasil panen menurun. Di sisi lain, kenaikan BBM juga berdampak pada biaya transportasi laut yang digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dari daerah produsen ke Tidore,” katanya.

Ia menambahkan, setelah Hari Raya Idulfitri harga sejumlah komoditas sempat mengalami penurunan. Namun dalam beberapa pekan terakhir kembali meningkat akibat terbatasnya pasokan dari daerah penghasil.

“Dari situlah yang memicu kenaikan harga. Pasokan berkurang sementara permintaan pasar tetap tinggi,” ujarnya.

Sebagai daerah kepulauan yang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, sebagian besar komoditas hortikultura di Tidore didatangkan melalui jalur laut dari Manado dan Gorontalo. Karena itu, harga di tingkat konsumen sangat dipengaruhi oleh kondisi di daerah produsen.

“Kalau harga di daerah produsen turun, maka harga di Tidore juga akan turun. Sebaliknya, jika pasokan berkurang dan harga di daerah asal naik, maka harga di sini ikut meningkat,” jelas Ilham.

Ia mengakui pemerintah memiliki keterbatasan dalam melakukan intervensi terhadap harga komoditas yang mengikuti mekanisme pasar, terutama untuk produk hortikultura seperti cabai dan bawang merah.

Meski demikian, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan melakukan koordinasi guna mencari langkah-langkah yang dapat menekan dampak kenaikan harga terhadap masyarakat.

“Kami akan membahas kondisi ini bersama TPID untuk mencari solusi yang memungkinkan, terutama terkait distribusi dan biaya transportasi,” katanya.

Menurut Ilham, harga komoditas seperti cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan bawang merah sangat bergantung pada ketersediaan stok di daerah produsen sehingga sulit untuk diintervensi secara langsung oleh pemerintah.

“Kalau harga komoditas hortikultura seperti ini, sangat tergantung pada kondisi daerah penghasil,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan di Pasar Gosalaha Tidore, harga telur ayam saat ini berkisar antara Rp2.300 hingga Rp2.400 per butir. Sementara tomat dijual Rp30.000 per kilogram atau Rp15.000 per setengah kilogram. Adapun harga bawang merah di tingkat pedagang mencapai Rp120.000 per kilogram. (msn)

 

 

 

Penulis: Mansyur Armain

Share