Bak penampung air setinggi dua meter itu masih berdiri kokoh di tengah semak yang mulai menelan sekelilingnya. Cat birunya terlihat belum pudar dan tampak masih baru. Lima tahun lalu, warga Desa Jiko Cobo, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara menaruh mimpi pada bangunan berukuran sekitar 4×4 meter melalui proyek penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat atau Pamsimas yang dijanjikan menjadi jawaban atas krisis air bersih. Namun, harapan itu perlahan mengering, menyisakan ironi di tengah kebutuhan air bersih yang tak pernah benar-benar terjawab.
LANGIT menggantung kelabu, awan-awan tipis berarak pelan, meneduhkan perjalanan saya menuju Kelurahan Jiko Cobo, sebuah desa di Kecamatan Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan pada Sabtu, 17 Mei 2026.
Motor yang saya kendarai melaju perlahan membelah jalanan sunyi oleh aktivitas warga. Beberapa menit kemudian, tepat sekitar pukul 14.56 WIT, saya akhirnya tiba di Jiko Cobo.
Di sana, sebuah rumah sederhana berdiri di antara pemukiman warga, tujuan saya hari itu. Rumah milik seorang pemuda bernama Iwan Abubakar.
Kedatangan saya bukan sekadar bertamu. Ada cerita yang ingin saya dengar tentang air bersih yang masih jauh dari perhatian.
Iwan tampak sibuk, suasana rumah juga sedang ramai oleh hajatan keluarga. Namun setelah menyampaikan maksud kedatangan, ia dengan ramah meluangkan waktu untuk berbincang.
Di tengah suasana yang sibuk itu, Iwan mulai bercerita tentang air bersih di Kelurahan Jiko Cobo, yang hingga kini masih menjadi persoalan utama warga setempat.
Dia menjelaskan, warga Jiko Tobo hingga saat ini belum terlayani air bersih dari PDAM Tikep. Untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci, warga selama ini mengandalkan air sumur satu-satunya di kelurahan itu.

Karena jarak sumur yang jauh dari pemukiman, warga membeli mesin pompa dan pipa induk secara swadaya, untuk menyalurkan air ke rumah-rumah warga.
Belakangan banyak warga memilih mencabut pipa air karena penyaluran air sumur tersebut tidak merata. Di sisi lain, warga harus membayar Rp20 ribu per bulan untuk ongkos listrik.
Sedangkan untuk kebutuhan makan minum, warga hanya bisa mengandalkan air galon atau air hujan.
Mahalnya Air Minum
Setiap kemarau, warga di RT 02 Kelurahan Jiko Cobo, terpaksa membeli air bersih ke PDAM yang diantar menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter.
“Per tangki seharga Rp350.000 yang dikhususkan untuk minum. Air tersebut, nanti disalurkan ke bak masing-masing rumah,”jelas Iwan.
Air tersebut kemudian disalurkan ke bak penampung yang biasa digunakan menadah air hujan. Setiap rumah warga memiliki bak penampung air hujan. Meski begitu, jika dalam kondisi mendesak seperti hajatan, warga terpaksa membeli air galon di Kelurahan Mafututu yang dijual Rp10.000 per 10 galon.
Kader Abdullah (60), warga lainnya mengatakan, masalah air bersih sudah lama dikeluhkan, namun hingga kini belum ada perhatian serius dari pemerintah.
Menurutnya, program Pamsimas yang digagas pemerintah juga tidak melalui perencanaan yang matang. Sebab, air bersih yang diharapkan warga tidak pernah benar-benar mereka nikmati meski jaringan perpipaan sudah terpasang di semua rumah.

“Kalau bak penampung Pamsimas itu, saya lupa bangun tahun berapa. Dan kalau untuk PDAM di RT 02, Kelurahan Jiko Cobo, hingga sekarang belum masuk,”tambah Kader.
“Air yang setiap hari dikonsumsi warga hanya air hujan,”lanjut Kader.
Ketua RW 07, Kelurahan Jiko Cobo, Usman Arahman (45) menambahkan, semenjak bak penampung dibangun hingga saat ini, air bersih tidak pernah mengalir ke dapur warga. Saat peresmian bak penampung Pamsimas yang dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, air sempat mengalir, namun setelahnya tidak pernah lagi mengalir hingga saat ini.
Usman bilang, warga makin dibuat susah ketika pipa induk hancur digilas eskavator beberapa bulan setelah program Pamsimas diresmikan yang sebabkan air dari sumur bor tidak bisa lagi disalurkan ke bak penampung. Dia mengaku pernah membayar Rp600 ribu untuk dua tangki air PDAM, akibat stok air di bak penampungnya habis.
“Tapi pada musim kemarau lalu, ada sekitar lima rumah yang membeli air di PDAM menggunakan tangki mobil,”ungkap Usman.
Oleh warga setempat, masalah air bersih berkali-kali disuarakan dalam berbagai kegiatan pemerintah terutama saat reses DPRD dan musrenbang. Sayangnya, usulan masyarakat itu belum menjadi isu prioritas pemerintah.
“Ketakutan kami, jika terjadi musim kemarau lagi, terpaksa ambil airnya susah,”pungkasnya.
Arah Kebijakan
Direktur PDAM Ake Mayora Kota Tidore Kepulauan, Abubakar Nurdin saat dikonfirmasi, mengungkapkan pihaknya menerima banyak keluhan soal air bersih di Tikep.
Namun, kasus krisis air bersih di Kelurahan Jiko Cobo dan Tuguwiha, kata Abubakar menjadi prioritasnya. Dia juga mengaku sudah menyampaikan masalah tersebut ke DPRD Kota Tidore Kepulauan dan Pemda untuk mendorong anggaran jaringan perpipaan.
“Ini merupakan kebutuhan masyarakat sehingga kita upayakan, kita juga berharap kementerian juga ikut membantu,”jelasnya.
Ketua DPRD Kota Tidore Kepulauan, H. Ade Kama, saat dikonfirmasi mengatakan, masalah air bersih di Kelurahan Jiko Cobo pernah ditangani sejak masa Wali Kota Achmad Mahifa dengan membangun bak penampung air.
“Kalau sekarang dibilang tidak terlayani itu, keliru. Tapi tidak usa muat (beritakan) sudah,”kata Ade.
“Saya bilang ke direktur (PDAM), saya juga warga Tidore Timur, bahwa mulai dari Tomadou hingga Jiko Cobo masalah air bersih sangat dibutuhkan,”tambahnya.
Dia mendorong, pemasangan instalasi air bersih di Tidore Timur pada 2027 melalui APBD. Politisi PDI itu berujar, dirinya akan terus mengawal agar masalah air bersih secepatnya diselesaikan.
“Ini kan tidak ada doi (uang). Nanti bilang pe dorang (warga Jiko Cobo), saya tidak berjanji lebih, tapi saya sudah berkoordinasi dan menjadi kesepakatan antara saya dan Direktur PDAM Ake Mayora, karena air ini merupakan kebutuhan dasar,”tandasnya. (*)
Penulis: Mansyur Armain

