Home Editorial Malut United; Kapitalis dan Distopia
EditorialOlahraga

Malut United; Kapitalis dan Distopia

Share
Ikram Salim
Share

Oleh: Ikram Salim

(Jurnalis)

Waktu menunjukkan menit ke-90 di Stadion Madya, Jakarta, pada 9 Maret 2024. Papan skor masih menunjukkan angka 1-1. Ini adalah laga penentu untuk memperebutkan satu tiket promosi tersisa menuju Liga 1 antara Malut United FC vs Persiraja Banda Aceh. Pertandingan ini berjalan sangat alot.

Sepanjang 90 menit waktu normal, kedua tim berkali-kali menciptakan peluang, membuat jalannya pertandingan terasa menegangkan bagi puluhan ribu pasang mata dari berbagai latar belakang yang tumpah ruah menyaksikan Frets Butuan dkk melalui videotron Landmark. Orang-orang datang dengan harapan yang sama—Malut United bermain di Liga 1 di musim 2024-2025.

Namun, harapan jutaan masyarakat Malut sempat pupus setelah Ramadan Madon, pemain Persiraja mencetak gol melalui sundulan dan mengubah skor menjadi 2-1 di extra time. Malut United yang unggul jumlah pemain setelah wasit mengusir keluar satu pemain Persiraja, justru dipaksa menunduk payah.

Di Ternate, ribuan penonton yang memadati jalan raya mendadak jadi sunyi. Dalam kesedihan itu terjadilah keajaiban. Dave Mustaine mencetak gol berkelas untuk Malut United dua menit setelah Persiraja merayakan gol keunggulan. Setelahnya pertandingan berjalan makin alot dibalut kontroversi. 11 kartu kuning dan 1 kartu merah menghiasi jalannya laga.

Malut United baru berhasil mengamankan tiket terakhir melalui gol Jose Wilkson dan membawa Malut United comeback di menit ke-114. Kebuntuan itu pecah melalui skema umpan silang yang disambut dengan sundulan pemain asal Brazil tersebut dan mengubah skor menjadi 3-2.

Wilkson membuat sejarah klub dan dirinya—menjadi pemain pertama dan terakhir yang mencetak gol penentu dan membawa tim ke Liga 1. Wilkson merayakan gol indah itu, ia berlari ke sudut lapangan dengan air mata yang tak terbendung, tangannya menunjuk ke langit sebagai isyarat suka cita dan syukur.

Ketika peluit panjang wasit Cahya Sugandi dibunyikan, skor 3-2 tetap bertahan. Kemenangan ini mengakhiri penantian panjang puluhan tahun kerinduan masyarakat Malut atas tim kebanggaannya bermain lagi di kasta tertinggi sepak bola nasional.

Malut United berhak tampil di panggung Liga 1, masyarakat Malut  seolah menemukan pelipur lara. Malut United dengan julukan Laskar Kie Raha jadi oase harapan ketika Persiter Ternate hanya tersisa sejarah dan catatan nostalgia. Kegembiraaan meledak.

Jalan di Ternate diserbu gelombang manusia, dan deru kendaraan sahut-sahutan. Mereka menari, melepas semua kerinduaan di jalanan kota hingga lorong-lorong sempit. Orang-orang dari berbagai latar belakang berbagi tumpangan, berbincang, dan melupakan sejenak hiruk-pikuk politik Malut jelang pemilihan gubernur Maluku Utara kala itu.

Di tahun-tahun berikutnya, Malut United membuktikan kepada publik Malut, bahwa mereka tidak sekadar sebuah tim sepak bola biasa, lebih dari itu ia adalah identitas dan mercusuar baru. Gelora Kie Raha Ternate yang kumuh dan tak terurus disulap menjadi salah satu stadion megah dengan view menakjubkan di Indonesia. Pemain berlabel bintang diboyong. Training camp dibangun, menjadi simbol harapan baru dan fondasi masa depan sepak bola Malut.

Dunia maya membicarakannya, sebuah citra kuat seketika mendongkrak popularitas klub. Malut United tidak hanya mengubur memori kolektif orang-orang tentang Persiter, tetapi berani menepuk dada karena berdiri sejajar dengan klub besar sekelas Persija, Persib, Persebaya, hingga Borneo, yang jadi langganan di puncak klasemen. Dalam dua edisi turnamen Liga 1 BRI, Malut United menjadi salah satu tim kuda hitam yang selalu nyaman di klasmen lima besar. Seruan rasa cinta akan klub itu pun hidup di tribun, di mural, di nyanyian, sampai spanduk. Media sosial apalagi.

Lalu, dua tahun berlalu, proses evolusi sedemikian cepatnya, membuat manajemen Malut United berpikir menulis kisahnya sendiri. Tanpa drama, dengan keyakinan mereka sendiri—manajemen membuat makam Malut United di stadion yang selama ini mereka bangun dengan pencitraan. Malut United dipaksa hilang dari memori pendukung. Konon, ia berganti nama menjadi Java United. Membawa semua embel-embel di tribun. Meninggalkan tanya di kepala pendukung tanpa penjelasan. Stadion Gelora Kie Raha kembali menjadi makam “Para Aulia” sepak bola (saya akan menulisnya dalam edisi yang lain).

Tak ada yang menyangka, Sabtu, 16 Mei 2026 menjadi momen terakhir bagi pendukung setia Malut United menyaksikan David Da Silva dkk tampil di Gelora Kie Raha melawan Persita Tangerang. Laga yang berakhir draw ini seolah menegaskan, bahwa ending dari Malut United adalah distopia.

***

Pada akhirnya sepakbola adalah permainan rakyat kecil yang telah diambil alih oleh kepentingan politik dan kapitalisme. Politik memanfaatkan sepak bola untuk membangun citra. Kapitalisme masuk lewat sponsor dan suporter menjadi konsumen. Stadion yang dulunya menjadi ruang rakyat, kini dipagari tiket mahal dan regulasi-regulasi “cukardeleng” lainnya.

Lalu, apakah ada harapan agar sepak bola bebas dari kapitalis dan politik? Tentu tidak. Sepak bola terus bersinggungan dengan kekuasaan dan kapitalis. Ia hanya menganggap penonton dan suporter bagian dari angka statistik dan laporan sponsor. Lihat saja, selalu ada pengumuman jumlah penonton jika stadion tampak sesak, Jika lowong? Tentu tidak ada pengumuman. Suporter tak lagi dianggap sebagai aktor sosial yang memiliki identitas, solidaritas, dan suara kolektif yang kuat.

Mereka hanya terus dimanipulasi demi kepentingan yang jauh dari semangat sportivitas. Di sini, sepak bola dianggap tak lagi memiliki daya magis luar biasa yang bisa menyentuh berbagai lapisan sosial, membentuk basis massa yang luas dan loyal. Jika Anda menanyakan apa buktinya sepak bola dengan kapitalis? Dalam keyakinan saya, jawabannya Persiter eh Malut United maksudnya. Hehehe. Saat manajemen bernegosiasi dengan pemain, di saat yang sama eksavator tengah menggali kulit bumi dengan rakusnya. Itu contoh relasi olahraga dan kapitalis dalam dunia nyata. Fakta gila lainnya, para pemilik klub adalah mereka dengan latar belakang pengusaha tambang dan politisi yang memiliki relasi erat dengan kekuasan yang kotor.

Di ujung catatan ini, terbesit di kepala saya, apakah Java United akan merasakan kisah tentang kehancuran bergenre distopia? Ataukah Java United terus bertahan sampai Persiter bangkit dari kubur. Saya tak begitu suka dengan kisah distopia, tapi rasa-rasanya saya tak bisa menulis kisah dengan akhir sesedih ini. (*)

Share