Home Daerah Lurah Foramadiahi Minta Perumda Ake Gaale dan Pemkot Segera Bantu Warga yang Krisis Air
DaerahHeadline

Lurah Foramadiahi Minta Perumda Ake Gaale dan Pemkot Segera Bantu Warga yang Krisis Air

Share
Kelurahan Foramadiahi, Kota Ternate.
Share

Krisis air bersih yang melanda warga Kelurahan Foramadiahi, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Maluku Utara, mendapat perhatian dari pemerintah kelurahan.

Keluhan warga terkait minimnya pasokan air bersih hingga kini dinilai belum mendapat penanganan serius dari Perumda Ake Gaale Ternate maupun pemerintah kota.

Kondisi paling parah dirasakan warga RT 07. Pasalnya, terdapat dua bak penampung air di wilayah tersebut yang hingga kini belum optimal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga. Padahal, sebagian warga telah memasang meteran air di rumah masing-masing.

Lurah Foramadahi, Muhlis Abjan, mengakui musim kemarau berkepanjangan membuat persoalan air bersih semakin dirasakan warga, terutama di RT 07.

“Di RT 07 itu airnya tidak mengalir sama sekali. Ada informasi petugas PDAM Ake Gaale akan menyalurkan air ke RT 07, tetapi saya bilang itu bukan solusi. Itu hanya langkah sementara,” tegas Muhlis, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, solusi yang harus dilakukan adalah mengaktifkan kembali bak penampung air agar dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Memang benar ada dua bak penampung air yang lokasinya berada di RT 07. Namun, satu di antaranya tidak aktif. Sementara yang aktif pun airnya belum tersalur secara maksimal ke seluruh rumah warga,” jelasnya.

Muhlis mengatakan, pihak kelurahan telah menyampaikan kepada warga melalui pengeras suara agar segera melakukan pendaftaran pemasangan meteran air.

Ia menyebutkan, Perumda Ake Gaale juga memberikan program promo pemasangan meteran air bagi warga.

“Biaya normal pemasangan meteran air sekitar Rp2,5 juta. Namun dalam program promo ini diturunkan menjadi sekitar Rp1,85 juta,” ungkapnya.

Muhlis mengaku telah berkoordinasi dengan Direktur Perumda Ake Gaale terkait mekanisme pembayaran. Ia meminta agar warga diberikan keringanan pembayaran secara bertahap.

“Kemarin saya bertemu dengan Direktur PDAM Ake Gaale. Saya meminta agar pembayaran pemasangan diberikan keringanan, minimal bisa dicicil tiga kali, dan itu disetujui,” katanya.

Namun, hingga saat ini jumlah warga yang mendaftar pemasangan meteran air masih minim. Dari target sekitar 10 hingga 20 rumah, baru sekitar lima sampai enam rumah yang menyatakan berminat.

“Kalau jumlahnya tidak memenuhi angka tersebut, keringanan pembayaran meteran air tidak dilanjutkan,” jelas Muhlis.

Di sisi lain, salah seorang warga RT 07 yang hendak mendaftarkan pemasangan meteran air mengaku belum mendapat pelayanan karena wilayahnya disebut masuk dalam zona merah.

Menurut Muhlis, persoalan lain yang dihadapi warga adalah distribusi air yang tidak menentu. Bagi sebagian warga yang telah memiliki meteran, air hanya mengalir pada waktu-waktu tertentu.

“Bagi warga di Foramadiahi yang sudah mempunyai meteran air, airnya hanya mengalir tiga kali sehari,” tambahnya.

Kondisi tersebut semakin menyulitkan warga di tengah musim kemarau berkepanjangan. Muhlis menyebutkan, petugas PDAM sempat menawarkan pendistribusian air menggunakan kendaraan tangki. Namun, menurutnya, langkah tersebut hanya bersifat sementara.

“Kami berharap petugas PDAM tetap maksimal dalam bekerja dan memberikan pelayanan kepada warga. Jangan hanya mengandalkan langkah sementara, tetapi harus ada solusi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (msn)

Penulis: Mansyur Armain

Share