Musim kemarau mulai berdampak terhadap aktivitas warga yang menggantungkan penghasilan dari pengolahan kasbi (singkong) menjadi sagu lempeng di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.
Salah satunya dirasakan Farida Idris (45), warga Kelurahan Jaya, Kecamatan Tidore Utara. Bersama suaminya, Farida telah puluhan tahun mengolah kasbi menjadi sagu lempeng untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Biasanya, Farida dan suaminya rutin pergi ke kebun yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari rumah untuk memanen kasbi. Namun, kondisi kemarau membuat mereka memilih tidak memanen tanaman tersebut.
“Kalau torang (kami) cabut, berarti tidak bisa tanam lagi. Panas dan kemarau,” kata Farida saat ditemui di rumahnya, RT 03/RW 02, Sabtu (3/10/2026).
Sebelum musim kemarau, aktivitas ke kebun dilakukan secara rutin. Kasbi yang dipanen kemudian diolah menjadi sagu lempeng untuk dijual menjelang hari pasar.
Menurut Farida, proses pembuatan sagu lempeng dimulai dari kasbi yang diparut. Hasil parutan kemudian dihancurkan dan disaring atau ditapis sebanyak dua kali untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
“Dari sisa sagu yang sudah dihancurkan lalu ditapis sebanyak dua kali, karena kalau hanya satu kali berarti hasilnya kurang bagus,” ujarnya.
Sagu kemudian dimasukkan ke dalam cetakan yang disebut forno. Cetakan tersebut terlebih dahulu dipanaskan menggunakan api.
“Forno harus tidak terlalu panas. Kalau sangat panas, sagu di dalamnya cepat hangus. Makanya, tunggu forno-nya dingin sekitar lima menit, baru bakar ulang sagu yang sudah dituangkan ke ruas-ruas forno,” jelasnya.
Beli Kasbi dari Jailolo
Kemarau membuat Farida kini tidak lagi mengandalkan kasbi dari kebunnya. Untuk tetap memproduksi sagu lempeng, ia membeli kasbi yang didatangkan dari Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, dan dijual di Pasar Sarimalaha, Tidore.
“Kalau saya beli kasbi, per karung seharga Rp130 ribu. Maka dari itu, saya beli dua karung seharga Rp260 ribu,” katanya.
Menurut Farida, jumlah produksi sagu lempeng sangat bergantung pada bahan baku. Satu karung kasbi berukuran sekitar 50 kilogram dapat menghasilkan sekitar 200 hingga 300 lempeng sagu.
“Karena di dalam proses parut itu, kalau sagunya keras maka torang dapat sagunya agak banyak,” tambahnya.
Satu paket berisi tujuh lempeng sagu dijual seharga Rp20 ribu. Selain dipasarkan di Tidore, Farida juga melayani pelanggan dari luar daerah yang pesanannya dikirim menggunakan speedboat atau kapal.
Hasil penjualan sagu lempeng menjadi salah satu sumber pendapatan keluarga. Dari usaha tersebut, Farida dapat membantu membiayai pendidikan tiga anaknya. Dua di antaranya sedang menempuh pendidikan di Universitas Khairun (Unkhair), sementara satu anak lainnya masih duduk di kelas 4 sekolah dasar.
Sebagian pendapatan juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta mengikuti arisan mingguan di kelurahan dan PKK dengan iuran Rp10 ribu per orang.
Farida mengatakan, sejumlah peralatan yang digunakan untuk memproduksi sagu juga dibeli dari hasil penjualan sagu, bukan bantuan pemerintah.
“Bahkan, alat parut kasbi saya beli dari hasil jualan sagu, bukan bantuan pemerintah. Hal yang sama seperti forno. Dulu saya beli dengan harga Rp100 ribu per buah, tapi sekarang harganya menjadi Rp150 ribu, sekaligus dengan aya-aya yang terbuat dari kawat,” ujarnya.
Di tengah perubahan kondisi dan keterbatasan bahan baku, Farida tetap berharap dapat mempertahankan usaha tersebut.
“Walaupun begitu, saya berharap masih tetap membuat sagu dan mempertahankannya sebagai pangan terakhir,” katanya.
Perajin Lain Ikut Terdampak
Kondisi serupa dialami Kuraisin Ahmad (35), pembuat sagu dari Kelurahan Folarora, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan.
Kuraisin bersama suaminya, Ibrahim Saleh (37), sebelumnya sering mengambil kasbi dari kebun milik mereka. Namun, kemarau membuat tanaman kasbi sulit dipanen.
“Memang ada kebun, tapi jaraknya sangat jauh dari rumah dan harus melewati gunung. Kasbi sudah ditanam, tapi karena matahari jadi mati, sehingga saya beli ke orang Jailolo yang bawa jual ke Pasar Tidore,” tuturnya.
Kasbi yang didatangkan dari Jailolo dan dijual di Tidore dihargai sekitar Rp140 ribu per karung. Kuraisin juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa kendaraan agar kasbi tersebut dapat diantar ke rumah.
Selain persoalan kemarau, produksi kasbi di kebun juga menghadapi gangguan lain berupa babi hutan yang merusak tanaman.
“Meskipun punya kebun, kami tidak lagi tanam kasbi karena banyak babi hutan yang keluar makan dan merusak tanaman kasbi. Hanya saja, torang tanam rica, tomat, dan sayur-mayur,” ungkapnya.
Produksi Menjelang Hari Pasar
Kuraisin biasanya memproduksi sagu menjelang hari pasar. Pembuatan dilakukan pada Jumat untuk dipasarkan Sabtu pagi, serta Senin untuk dijual pada Selasa.
Dalam sehari, produksi sagu bergantung pada jumlah kasbi yang tersedia. Jika menggunakan dua karung kasbi, ia dapat menghasilkan sekitar 40 hingga 50 lempeng sagu.
“Sehari dalam pembuatan sagu biasanya menghasilkan delapan lempeng sagu, itu pun tergantung banyaknya kasbi. Bila dua karung kasbi, maka tentu mendapat 40 hingga 50 lempeng sagu,” katanya.
Menurut Kuraisin, proses yang membutuhkan waktu cukup lama adalah saat memarut dan memeras kasbi. Kasbi yang telah diparut harus dipres hingga kandungan airnya benar-benar berkurang sebelum diolah lebih lanjut.
Setelah selesai diproduksi, sagu lempeng langsung dibawa ke Pasar Sarimalaha setiap hari pasar, yakni Sabtu dan Senin.
Di pasar, empat lempeng sagu dijual seharga Rp10 ribu. Sementara jika dijual langsung dari rumah, lima lempeng dihargai Rp10 ribu.
“Sagu yang saya jual tara (tidak) di tempat lain, hanya di Pasar Sarimalaha saja,” ujarnya.
Dari hasil penjualan tersebut, sebagian pendapatan disisihkan untuk mengikuti arisan di kelurahan dengan iuran Rp50 ribu per orang. Selebihnya digunakan untuk kebutuhan keluarga, termasuk memberikan uang jajan kepada anak-anaknya.
Kuraisin memiliki empat anak dan satu anak angkat. Dua anak pertamanya telah menyelesaikan pendidikan SMA, satu masih duduk di bangku SMA, sedangkan anak bungsunya berusia sekitar dua tahun.
Meski suaminya bekerja sebagai pekerja bangunan, Kuraisin tetap mempertahankan pembuatan sagu sebagai salah satu sumber penghasilan keluarga.
Ia mengaku keterampilan mengolah kasbi menjadi sagu telah dipelajarinya sejak masih bersekolah. Pengetahuan tersebut kemudian terus dipertahankan hingga kini.
Bagi Farida dan Kuraisin, sagu lempeng bukan sekadar produk pangan yang dijual di pasar. Di tengah kemarau dan keterbatasan bahan baku, usaha tersebut menjadi salah satu cara mereka mempertahankan penghasilan sekaligus menjaga pengetahuan pengolahan pangan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. (*)
Penulis: Mansyur Armain

