Generasi Muda Sultan Nuku menyerukan momentum kebangkitan rakyat melalui sebuah pesan “81 Tahun Pengkhinatan Negara Indonesia Terhadap Kesultanan Tidore”.
Suara keras tersebut, mulai ramai diperbincangan dari generasi muda Sultan Nuku yang tersebar di berbagai media sosial termasuk grup WatshApp.
Dari seruan itu, mengangkat lima gagasan besar, terdiri dari referendum, federalisme, kemerdekaan, kedaulatan, dan keadilan sosial.
Ketua Generasi Muda Sultan Nuku, Jainudin Saleh menegaskan, seruan ini dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah pusat yang dianggap tidak berpihak terhadap daerah, seperti pengurangan dan transfer ke daerah (TKD).
“Proyek itu, bertujuan memuluskan mega proyek dari program nasioanal seperti Koperasi Merah Putih dan Makanan Bergizi Gratis (MBG),”tegasnya, Kamis (27/8/2026).
Jainudin menjelaskan, perjuangan yang digaungkan dari mereka sebagai hak-hak masyarakat Tidore, tentunya belum mendapatkann perhatian khusus dari pemerintah dibawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
“Kami ingin mempertanyakan kembali hubungan politik dan sejarah antara Tidore dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kembalikan hak kami yang dirampas oleh negara,”ucapnya.
Bergabungnya Tidore dalam pangkuan Ibu pertiwi, sudah sepantasnya dipandang sebagai konsensus bersama untuk mengangkat harkat dan martabat para Sultan, dan mengembalikan semangat desentralisasi guna mewujudkam kesejahteraan di daerah.
Dengan begitu, Negara perlu memberikan perhatian khusus kepada Kesultanan Tidore. Pasalnya, hubungan sejarah, hak masyarakat adat, kewenangan daerah, dan posisi Kesultanan Tidore menjadi bagian terpenting dalam pembentukan NKRI.
“Gagasan ini, tidak hanya berbicara mengenai persoalan ekonomi atau sumber daya alam, tetapi juga mempertanyakan format hubungan politik dan kewenangan antara daerah dengan pemerintah pusat,”pungkasnya.
Di sisi lain, gagasan mengenai referendum atau perubahan bentuk negara merupakan isu konstitusional yang sangat serius dan harus ditempatkan dalam koridor hukum serta dialog demokratis.
“Saya menyerukan agar masyarakat dalam bingkai Kesultanan Tidore di Halmahera, Weda, Patani, Maba, Papua Gam Sio, Kei, Seram, dan Tanimbar terus merapatkan kakuatan,”tambahnya.
Maka dari itu, mari bersama dalam barisan perjuangan ini, dengan semboyang persatuan “Ino fo Marimoi Nyinga Gate saya Rako Moi, Tidore Futuru”. (msn)
Penulis: Mansyur Armain

