Home Daerah Foramadiahi Kota Ternate Krisis Air Bersih, Warga Butuh Bantuan Pemerintah
DaerahHeadline

Foramadiahi Kota Ternate Krisis Air Bersih, Warga Butuh Bantuan Pemerintah

Share
Kelurahan Foramadiahi saat ini mulai kesulitan air bersih.
Share

Warga Kelurahan Foramadiahi, Kota Ternate mulai terdampak kekeringan. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat kelurahan yang memiliki delapan RT itu mulai kesulitan mendapat air untuk kebutuhan sehari-hari.

Saat ini warga harus patungan untuk membeli air tangki, sebab warga belum menerima bantuan dari pemerintah atau pun Perumda Ake Gaale Ternate.

“Sekarang kami hanya beli air bersih,”kata Nader Talib, Ketua RW 02 Kelurahan Foramadiahi saat dikonfirmasi di kediamannya, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, ketinggian juga menjadi kendala bagi truk yang mengangkut air. Bahkan, lanjutnya, ada warga yang terpaksa mandi menggunakan air galon.

Nader mengaku, selama ini warga hanya bergantung pada air hujan yang ditampung, namun sebagian besar air di bak penampung juga habis.

Dia juga bilang, tahun lalu warga mendapatkan bantuan air dari Perumda Ake Gaale, namun sekarang bantuan air dari pihak manapun. Di sisi lain, lanjutnya, warga memilih menjadi pelanggan baru Perumda Ake Gaale.

”Selama ini kita minum dari air hujan, sekarang kan ada promo pemasangan baru dari Rp3 juta jadi Rp1,9 juta dari sudah ada 1 rumah yang sudah mendaftar,”ujarnya.

“Sampai hari ini juga tidak ada bantuan dari pemerintah. Sekarang semua bak air di sudah kering termasuk yang ada di Fora 2,”tuturnya.

Sejumlah warga yang telah terpasang meteran air mengaku masih kesulitan mendapatkan pasokan air. Kondisi tersebut membuat sebagian warga terpaksa menampung air dari sumber yang tersedia untuk kemudian dialirkan ke rumah masing-masing.

Warga berharap pemerintah kelurahan mengambil langkah dengan meneruskan persoalan tersebut kepada Pemerintah Kota Ternate, termasuk meminta Perumda Ake Gaale Ternate meningkatkan pelayanan distribusi air ke wilayah Foramadahi.

Warga juga meminta agar distribusi air tidak hanya terfokus di kawasan pesisir, tetapi turut menjangkau wilayah permukiman di bagian lainnya.

Ketua RW 03/RT 07 Kelurahan Foramadahi, Benyamin, mengatakan warga di wilayahnya mengalami persoalan serupa selama musim kemarau.

“Memang, sebagian warga di RT 07 meteran air sudah terpasang, tetapi airnya belum mengalir. Kemarin saya ke PDAM untuk menanyakan kondisi bak penampung air yang sudah lama dibangun pada masa pemerintahan Wali Kota Burhan Abdurahman. Mestinya bak tersebut bisa difungsikan kembali,” kata Benyamin.

Menurutnya, keberadaan bak penampung tersebut sebenarnya dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan air bersih warga Foramadahi. Namun, hingga kini bak tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan kondisinya kosong.

“Hingga saat ini, bak penampung itu belum diserahkan dari pihak PU ke PDAM Kota Ternate,” ujarnya.

Benyamin juga meminta agar jalur distribusi air di kawasan Kastela dapat ditata kembali sehingga tersedia jalur khusus untuk melayani kebutuhan warga Foramadahi.

Ia menjelaskan, distribusi air yang selama ini diterima warga RT 07 hanya berlangsung sekitar enam jam, yakni mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIT. Setelah waktu tersebut, aliran air kemudian dialihkan ke RT lainnya.

“Jalur air yang sama dengan RT 07 itu juga melayani RT 05 dan RT 06. Sedangkan RT 08 memiliki jalur tersendiri,” jelasnya.

Meski demikian, kata Benyamin, masih terdapat 11 rumah di RT 07 yang belum mendapatkan akses air bersih. Kondisi tersebut membuat warga harus mengambil air dari keluarga atau tetangga terdekat menggunakan gelong, kemudian membawanya pulang.

“Tapi ada 11 rumah di RT 07 yang belum dapat air. Mereka terpaksa mengambil air dengan gelong di keluarga terdekat, lalu memikulnya pulang,” tuturnya.

Benyamin menambahkan, sebelumnya bak penampung air tersebut direncanakan untuk dilengkapi jaringan pipa dan meteran air. Namun, rencana itu belum terealisasi karena warga khawatir pemasangan meteran tidak akan efektif jika pasokan air belum tersedia.

Memasuki Agustus 2026, ia menyebut belum ada distribusi air dari PDAM yang secara rutin menjangkau wilayah tersebut.

Sementara itu, warga lainnya, Adam, mengatakan sebagian warga RT 07 memang telah memiliki meteran air, namun pasokan yang diterima masih sangat terbatas.

“Memang sebagian warga sudah memasang meteran air, tetapi air hanya mengalir tiga kali sehari,” kata Adam.

Menurut Adam, terdapat dua bak penampung air di RT 07. Salah satunya masih memiliki air, sementara bak lainnya dalam kondisi kosong meski telah lama dibangun.

“Dua bak penampung air ada di RT 07. Satu masih ada air, sementara yang satu lagi kosong, meskipun sudah lama dibangun,” ujarnya.

Ia mengatakan, warga yang belum memiliki meteran air kini hanya mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, memasuki musim kemarau, persediaan air hujan yang ditampung warga mulai menipis.

Air yang ditampung tersebut, lanjut Adam, tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan rumah tangga, tetapi juga untuk keperluan bercocok tanam.

“Untuk saat ini warga belum ada yang menanam karena persoalan air,” pungkasnya. (msn)

 

 

 

Penulis: Mansyur Armain

Share